Showing posts with label Gus Dur. Show all posts
Showing posts with label Gus Dur. Show all posts

April 26, 2013

Keberanian Gus Dur Tanda Kewalian

Tak ada orang yang tahu seseorang telah menjadi wali atau kekasih Allah keciali wali lainnya. Meskipun demikian H Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur juga yakin akan kewalian yang ada pada Gus Dur.

Ia merujuk pada sebuah ayat Qur’an, Ala inna aulia allahi la khoufun alaihim wala hum yahzanuun yang dalam arti bebasnya, para wali merupakan orang yang tidak punya rasa takut kecuali pada Allah.

“Gus Dur pada batas tertentu diatas rata-rata keberaniannya, ketakutannya terhadap urusannya dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong ummat, membantu masyarakat, maka ia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah,” katanya, Kamis (17/2). 

Kewalian Gus Dur Masuk Akal

Polling yang dilakukan NU Online antara 30 Desember 2010-11 Februari tentang kewalian Gus Dur menunjukkan sebanyak 49 persen percaya Gus Dur  seorang wali, 27 persen mempercayai Gus Dur orang cerdas dan multibakat, 18 persen menganggap Gus Dur orang biasa dan 6 persen mengaku tidak tahu.

Wakil Sekjen PBNU Enceng Sobirin Najd mengaku tidak heran terhadap persepsi masyarakat tersebut karena kewalian Gus Dur sangat masuk akal.

January 26, 2013

Benarkah Gus Dur Mengatakan Al-Qur'an Kitab Porno?

Kontroversi agaknya tak bisa lepas dari sosok seorang KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur). Bahkan hingga beliau wafat-pun berbagai kontroversi masih menyertai mendiang mantan Ketua Umum PBNU selama dua periode tersebut.

Satu yang menarik perhatian saya dan merupakan salah satu yang dianggap sebagai “dosa besar” Gusdur adalah pernyataan Gus Dur bahwa al-Quran adalah kitab suci porno. Benarkah Gus Dur pernah menyatakan demikian? Atau itu hanya sekedar fitnah belaka?

Saya tak mendapatkan kapan kepastian Gus Dur menyatakan demikian. Informasi kabar angin yang berhasil dikumpulkan bahwa pernyataan Gus Dur itu pertama kali diucapkan pada saat acara radio “Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita 68H, Jakarta, yang mengudara saban Sabtu. Melalui ucapan di radio itu-lah, perkataan Gus Dur kemudian tersebar, banyak dikutip oleh media dan segera menimbulkan kehebohan.

Menurut Muhammad Guntur Romli, salah satu pengisi acara di Kabar Berita tersebut, Gus Dur sama sekali tak pernah melontarkan pernyataan bahwa al-Quran adalah kitab suci porno. Pernyataan Gus Dur yang lengkap ialah: “Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang. Kalau orang kepalanya ngeres, dia akan curiga bahwa al-Quran itu kitab suci porno, karena ada ayat-ayat tentang menyusui. Bagi yang ngeres, menyusui berarti mengeluarkan dan men-tetek, dan ada juga roman-romanan antara Zulaikha dan Yusuf.” (Lihat “Ustad, Saya Sudah Di Surga”, M. Guntur Romli).

Jika kita membaca secara lengkap dan memahami konteks pernyataan Gus Dur, maka diketahui bahwa tidak benar Gus Dur mengatakan “al-Quran adalah kitab suci porno”. Satu-satunya yang mendukung adanya pernyataan itu adalah ucapan Gus Dur yang dipenggal secara licik dan dipelintir sedemikian rupa. Sehingga beredarlah kabar angin bahwa Gus Dur mengatakan hal demikian.

Ini persis dengan Anda memenggal ayat “Fa Wail lil Mushalliin” (celaka-lah untuk orang yang shalat), tapi tidak melanjutkan bacaan ayat-nya secara utuh. Pemenggalan ayat itu akan menimbulkan persepsi yang salah dan tidak mendapatkan gambaran yang seutuhnya tentang substansi yang ingin disampaikan oleh Tuhan.

Demikian pula dengan kasus Gus Dur. Ucapan yang dipenggal tentu akan menimbulkan persepsi yang salah dan tidak memahami substansi menyeluruh pernyataan Gus Dur. Akhirnya publik-pun hanya menilai apa yang dibawa oleh media tanpa menyeledikinya lebih jauh mengenai konteks ucapan dan isi ucapan yang menyeluruh.

Uniknya, nasib Gus Dur ini bak tokoh idolanya, Abunawas. Selain sama-sama digambarkan sebagai sosok kontroversial, ucapannya-pun kerap mendapatkan pelintiran. Saya harap artikel ini setidaknya menjelaskan versi lain perihal ucapan kontroversi Gus Dur mengenai al-Quran. Selanjutnya saya serahkan kepada “sidang” pembaca.

Namun, pada akhirnya, seperti ucapan almarhum KH. Abdurahman Wahid, “Gitu Aja Koq Repot!”.
 
Oleh:

Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Pun Hormati Gus Dur

 Ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, Prof. Dr. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, yang muridnya tersebar di seluruh dunia, memberi penghormatan pribadi kepada Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya.
Besarnya pengaruh ulama yang mendalami madzhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka madzhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya. Beliau belajar di al-Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.

January 25, 2013

Pelengseran Gus Dur Melanggar Hukum

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengungkapkan, tuduhan bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima dana dari Bulog dan Brunei sengaja diramaikan untuk menjatuhkan citra Presiden ke-4 RI ini. Berikut kronologi penurunan Gus Dur menurut Mahfud MD:

Dalam kasus yang selanjutnya disebut buloggate dan bruneigate tersebut, Gus Dur tak terlibat sama sekali. Dalam kasus buloggate, saat itu seseorang yang disebut sebagai tukang pijit Gus Dur, bernama Suwondo mengatasnamakan Gus Dur untuk kepentingan pribadi.

“Gus Dur itu orangnya egaliter. Siapapun yang ingin bertemu, diterimanya.  Termasuk tukang pijit pun diterimanya. Saat itu  Suwondo ingin bertemu Gus Dur dengan membawa Sapuan.

December 5, 2012

Mengapa Membela Gus Dur?

Habib Muhsin Alatas, seperti yang saya baca dalam Kongkow Gus Dur, menyatakan bahwa Bathugana tidak perlu meminta maaf sekaligus menarik ucapannya. Beliau juga mengatakan bahwa warga NU juga tak perlu membela Gus Dur dan siapa yang membela beliau termasuk jenis fanatisme buta. Adapun alasan habib tersebut bahwa Gus Dur bukan waliyullah, sebaliknya beliau menyatakan bahwa Gus Dur wali setan.

Di sini perlu saya klarifikasi pendangan Habib Muhsin agar ke depan beliau tidak salah mengindetifikasi kembali perihal dukungan dan pembelaan warga NU kepada Gus Gur.